Senin, 20 September 2010

model komunikasi interaksional

Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik, dengan tokoh utamanya George Herbert Mead yang salah satu muridnya adalah Herbert Blumer. Model verbal lebih sesuai digunakan untuk melukiskan model interaksional., hal ini dikarenakan karena karakternya yang kualitatif, nonsistemik, dan nonlinier. Didalam model ini komunikasi digambarkan sebagai pembentukan makna (penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain) oleh para peserta komunikasi. Beberapa konsep penting yang digunakan dalam model ini adalah diri (self), diri yang lain (other), simbol, makna, penafsiran, dan tindakan.
Menurut model interaksi simbolik, orang-orang sebagai peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) itu bersifat aktif, reflektif dan kreatif. Peserta komunikasi juga menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Dari paham yang terdapat dalam model ini terlihat jelas bahwa paham yang mengatakan individu merupakan organisme yang selalu bersifat pasif  dan yang perilakunya hanya ditentukan dengan struktur-struktur di luar dirinya itu merupakan konsep yang salah.
Herbert Blumer mengemukakan tiga (3) premis penting yang menjadi dasar terbentuknya model interaksional ini, antara lain:
1.      Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya yang meliputi: simbol verbal, simbol nonverbal, lingkungan fisik.
2.      Makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya.
3.      Makna diciptakan, dipertahankan dan diubah lewat proses penafsiran yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Sebagai individu yang dinamis (terus berubah), masyarakat juga ikut berubah melalui interaksi yang mereka jalin dengan lingkungan sosial mereka. Meski demikian, struktur masyarakat bukanlah komponen terpenting untuk menentukan perilaku manusia. Yang terpenting adalah interaksi. Struktur masyarakat sendiri akan tercipta jika manusia melakukan interaksi. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut, Fisher menggambarkan sebuah model diagramatik sebagai berikut:
Diri/ Yang Lain
 

Yang Lain/ Diri
KOMUNIKATOR                                                                                            KOMUNIKATOR
Objek
 

Konteks Kultural
Dari model diagramatik yang digambarkan oleh Fisher diatas ini, terlihat bahwa sumber (komunikator) dan penerima pesan (komunikan) memiliki kedudukan yang sederajat (sama pentingnya) di dalam sebuah bentuk interaksi. Satu elemen yang penting bagi model interaksional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan yang disampaikan sumber (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan)  .
Menurut model interaksional, para peserta komunikasi adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, yaitu dengan melalui pengambilan peran orang lain (role-taking). Diri (self) berkembang lewat interaksi dengan orang lain, yang dimulai dari lingkungan terdekatnya seperti: keluarga (significant others) dalam suatu tahap yang disebut tahap permainan (play stage) dan terus berlanjut hingga ke lingkungan yang lebih luas (generelized others) dalam suatu tahap yang disebut pertandingan (game stage). Dalam interaksi tersebut, individu dapat selalu melihat dirinya sendiri melalui gambaran prespektif orang lain terhadap diri kita. Dari situlah suatu konsep diri dapat muncul dan berkembang.




Daftar Pustaka:
Mulyana, Deddy, M.A.,Ph.D. 2007. .Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
West, R ., & Turner, L.H. 2006. Introducing Communication Theory: Analysis and Application Chapter3. Belmont, CA: Wadsworth.
Wiryanto, Dr. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi (Jilid I). Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi yang diakses pada Jumat, 17 September 2010.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar